Archive for April, 2007

Menyoal Bahasa Feodalis dalam Infotainment

Wednesday, April 25th, 2007
Baru-baru ini saya membuka kembali kumpulan tabloid infotainmen yang ada di rumah untuk sekadar membaca artikel-artikel yang belum sempat terbaca. Saya terhenyak saat membaca sebuah artikel dalam tabloid Cek & Ricek edisi 416 tahun VIII Rabu, 16-22 Agustus 2006, tentang Danny Bimo Hendro Utomo Rukmana yang saat itu adalah calon suami dari aktris Lulu Tobing. Dalam artikel tersebut tertulis: "Calon suami Lulu Tobing ini bukan pria sembarangan. Ia adalah putra bungsu pasangan Siti Hardiyanti Hastuti Rukmana (Mbak Tutut) dengan Indra Rukmana Kowara. Masa remaja cucu mantan Presiden Soeharto ini dihabiskan di luar negeri…". Kalimat-kalimat yang sepintas tampak sepele ini sebenarnya mengandung metanarasi yang sangat problematik.
Perlu saya tegaskan bahwa tulisan ini tidak bermaksud menyinggung pihak manapun yang saya sebutkan dalam tulisan ini. Pertanyaan besar saya adalah, apa dasar epistemologis yang dipergunakan oleh tabloid tersebut untuk menobatkan Danny Rukmana sebagai "bukan pria sembarangan"? Apakah karena ia putra dari Mbak Tutut sekaligus cucu dari mantan Presiden Soeharto? Apakah karena ia punya hubungan darah dengan mantan "penguasa orde baru" sekaligus "orang nomor 1 di Indonesia"? Hanya karena urusan genetik-kah Danny Rukmana menjadi "bukan pria sembarangan"? Bila ya, maka kenyataan ini patut kita sayangkan.
Secara sosiologis, pengagungan terhadap seseorang karena status lahiriahnya bukanlah sebuah anomali. Karena Sosiologi sendiri mengakui adanya ascribed-status atau status yang didapatkan karena kelahiran tanpa memperhatikan faktor rohani maupun kemampuan. Status semacam ini berbeda dengan achieved-status atau status yang diperoleh dengan usaha-usaha yang disengaja. Dalam sejarah manusia, ascribed-status tentu saja muncul lebih dahulu, seperti dalam zaman primitif dan zaman kerajaan. Barulah pada masa Enlightenment kemampuan individu sebagai manusia mulai mendapatkan penghargaan besar-besaran. Orang-orang yang bukan keturunan ningrat pun berkesempatan untuk menduduki posisi puncak. Konsekuensinya, seiring dengan perkembangan modernitas, keningratan bukan lagi suatu hal yang niscaya membuat seseorang bertekuk lutut bila dihadapkan padanya.
Lalu mengapa sepenggal bahasa yang saya persoalkan itu muncul? Adakah itu hanya kelalaian dalam berbahasa? Ataukah memang ada semacam kerinduan dalam masyarakat kita akan kembalinya kejayaan feodalisme? Lebih berbahaya lagi, apakah sepenggal bahasa itu merupakan afirmasi terhadap budaya nepotisme dan money politics yang merajalela di Indonesia? Tentu saja feodalisme berkaitan dengan nepotisme dan money politics karena ketiganya identik dalam hal tidak menghargai pengetahuan, bakat, dan kemampuan kerja individu.
Kembali ke ranah infotainmen, feodalisme dalam dunia selebriti bukanlah hal yang baru dan bukan hanya terjadi di Indonesia. Sering kali seseorang yang berpasangan dengan selebriti dicap sebagai "nobody" hanya karena ia bukan selebriti atau orang yang kaya raya. Seperti kasus Justin Timberlake, Britney Spears, dan Kevin Federline (K-Fed). Justin dipuja, K-Fed dihina. Bahkan K-Fed belum lolos dari cemooh semisal "he’s just a back-up dancer", padahal Britney menikahi K-Fed dan bukan Justin.
Baik "bukan pria sembarangan" maupun "nobody" adalah contoh-contoh dari bahasa yang harus dipersoalkan dalam kasus seperti ini karena maknanya tidaklah sederhana. Charles Sanders Peirce, seorang filsuf Amerika, dalam semiotikanya memposisikan interpretant yang bisa dengan bebas memaknai relasi antara tanda dengan obyek. Posisi saya sebagai interpretant terhadap relasi tanda "bukan pria sembarangan" dengan obyek "Danny Rukmana" serta "he’s just a back-up dancer" dengan "Kevin Federline" menghasilkan makna bahwa relasinya beraroma feodal. Sentimen feodalnya bersifat positif (mengagungkan) dalam kasus Danny dan bersifat negatif (merendahkan) dalam kasus K-Fed.
Masalahnya bukan pada Danny, Kevin, ataupun suatu obyek, namun pada bahasa yang dipergunakan untuk membicarakan seseorang atau obyek tersebut. Baik bersifat positif maupun negatif, bahasa yang feodal harus ditentang karena bersifat retrogresif terhadap semangat zaman. Meskipun postmodernitas pesimis terhadap progresifitas yang digembar-gemborkan oleh modernitas, bukan berarti kita harus kembali pada nilai-nilai feodal dari zaman pra-modern. Bahasa yang beraroma feodal, seksis, rasis, dan lain-lain sungguh tidak layak kita perkenalkan pada generasi muda yang kini juga banyak mengonsumsi infotainmen. Filsuf Jerman bernama Martin Heidegger mengatakan bahwa bahasa adalah media manusia untuk memahami dunia dan isinya. Akankah kita membiarkan generasi muda Indonesia memiliki pemahaman yang feodal tentang dunia dan memandang sebelah mata kerja keras serta semangat belajar? Jawaban atas pertanyaan retoris tersebut tentu saja adalah "tidak", karena itu sama saja dengan melestarikan KKN yang masih menjadi kanker negeri ini.

Anne Avantie, WOW!

Wednesday, April 25th, 2007

Pada hari Kartini yang lalu, tanggal 21 April 2007, secara tidak sengaja saya menonton acara "Aku, Anugerah, dan Kebaya" tentang Anne Avantie dan karya-karyanya yang ditayangkan di Metro TV pada malam hari. Tadinya saya pikir itu hanyalah liputan tentang show kebaya, namun ternyata juga tentang kiprah Avantie di dunia fesyen selama belasan tahun.

Hanya butuh beberapa detik bagi show tersebut untuk membuat saya terkagum-kagum. I was completely mesmerized by Avantie’s kebayas. Saya tidak tahu apakah koleksi yang ditampilkan saat itu adalah koleksi terbarunya atau rekapitulasi dari karya-karyanya selama ini. Saya juga tidak tahu sama sekali tekhnik-tekhnik pembuatan kebaya seperti apa saja yang digunakan oleh Avantie. But I thought the whole collection was beautiful and splendid. They were masterpieces!

Perhatian saya benar-benar tersedot pada koleksinya. Namun saya tetap notice bahwa ia juga menggunakan jasa model-model dari berbagai usia untuk mengenakan rancangannya. Sekalipun usia modelnya beragam, namun mereka tetap terlihat cocok dengan rancangan Avantie. Menurut saya, hal itu menunjukkan kepiawaian Avantie dalam mengakomodasi kebutuhan kebaya yang cocok untuk setiap jenjang usia.
Pagelaran Avantie tersebut memberikan saya confidence bahwa industri fesyen Indonesia suatu saat nanti bisa menjadi yang terdepan, setidaknya di kawasan Asia. Salah satu hal yang memberikan saya kepercayaan itu, dari show-nya Avantie, adalah karya-karyanya yang semegah, atau mungkin lebih megah dari, haute couture-nya Galliano. Desainer-desainer Indonesia yang lain saya yakini juga memiliki tingkat kreativitas yang sama tinggi. Kita cuma perlu memikirkan pemasaran saja koq, dan bagaimana caranya menarik perhatian dunia kepada kreasi-kreasi fesyen di Indonesia.
Go Anne Avantie! Go Indonesian designers!

Udah Cukup Terang Belum, Tin?

Wednesday, April 25th, 2007
Dear Kartini,
Happy belated birthday, ya! Yang keberapa 2007 ini? Entahlah, yang pasti udah tua ya. Lagi dimana Tin? Surga? Neraka? Atau dua-duanya ternyata dusta? Yah, gue harap sih lo di tempat yang baik, mengingat kontribusi lo terhadap perjuangan semasa penjajahan. Mengingat juga karena lo meninggal karena depresi sehabis di-poligami. Bener gak sih lo di-poligami-in? Kalo iya, kasihan banget ya.
Anyway Tin, lo kan terkenal banget ya dengan slogan "Habis Gelap Terbitlah Terang" itu. Which is probably the only thing that the Indonesian teens of today know about you and not knowing or even wanting to know what your struggle was really all about. He..he.., sejujurnya gue juga gak banyak tahu tentang pemikiran dan perjuangan lo. Tapi tenang, sama seperti lo gue juga anti kekerasan dan anti poligami.
Kalo lo bisa lihat dari "atas" sana, menurut lo gimana kehidupan perempuan Indonesia sekarang? Udah ada hasil yang berarti belum perjuangan lo? Ibaratnya, udah cukup "terang" belum, Tin? Well, menurut gue sih udah cukup lumayan, dengan adanya kesetaraan di beberapa bidang, setidaknya dalam tataran ideal dan hukum. Walaupun masih ada aja oknum2 yang berusaha meredupkan terangnya, dengan RUU APP lah, Poligami lah, trafficking yang gak abis2, dsb.
Lo lihat kan Tin? Perempuan-perempuannya udah banyak yang sukses dan berjuang lho! Ada Butet Manurung, Gadis Arivia, Anne Avantie, Sinta Nuriyah, Lisa Rumbeiwas, Anggun C. Sasmi, Rieke Diah Pitaloka, dan masih banyaaaaaaaaaaak lagi!
Are you happy with it, Tin? Semoga terangnya terus-terusan ya. Dan semoga mereka-mereka yang berusaha meredupkan terangnya, kayak Balkan Kaplale, Puspowardoyo, FPI, dan manusia2 patriarkis lainnya malah KESETRUM! Ha..ha..ha.. :)
Love Ya,
Depok, 26 April 2007,
Adhi Putra Tawakal

Laras Hati

Saturday, April 21st, 2007

            Laras Hati, kini tiada lagi dirimu dalam pikiranku. Kau tak lagi berdansa di ruang anganku. Kalbuku bahkan tak lagi merasakan getaranmu. Namun itu semua karena diriku yang telah sengaja melupakanmu. Sesungguhnya, bayangmu masih ada dalam benakku. Namun begitu buram, karena tak lagi diterangi oleh rasa cinta yang dulu pernah kumiliki untukmu. Mengapa begini? Mengapa perasaanku kepadamu tidak seperti dulu? Dulu begitu menggebu-gebu, namun kini telah redup laksana lentera yang telah kehabisan bahan bakarnya. Padahal aku pernah berpikir bahwa lentera cintaku akan terus menyala agar aku bisa terus menyaksikan indahnya paras dan perilakumu. Sayang, aku salah. Lenteraku tidak menyala abadi.

            Laras Hati, sampai sebelum lentera cintaku padam, aku terus menganggap bahwa pertemuan pertama kita adalah suatu keajaiban. Seolah kita memang ditakdirkan untuk bersama. Kau tentu tidak tahu apa maksudku karena kau tidak pernah memiliki rasa yang sama untukku. Setidaknya, itulah yang kurasa. Kau tidak pernah mencintaiku. Tapi sudahlah, pertemuan pertama kita tetap terasa ajaib bagiku.

            Saat itu aku belum memiliki rasa untukmu. Saat itu perasaanku tertuju pada sang Dara yang menjadi pujaan banyak lelaki. Harus kuakui bahwa dia memang sangat cantik, itu sebabnya aku menyukai dirinya. Sang Dara adalah temanmu, begitu juga dengan si Juwita yang putih dan manis itu. Saat itu aku melihat si Juwita melintas dihadapanku bersama sang Dara. Jantungku berdetak lebih kencang. Aku ingin menemui sang Dara. Aku ingin berdekatan dengan  sang Dara. Begitu kuatnya keinginanku untuk berdekatan dengan sang Dara sampai-sampai aku pun berpikir keras tentang apa yang akan kukatakan kepada si Juwita. Hanya untuk bertemu sang Dara.

            Aku pun melangkahkan kakiku ke tempat dimana mereka duduk dan bercengkrama. Kulihat mereka saling melempar tawa di salah satu meja kuning di dalam kantin kerucut. Meja itu bernoda, namun mereka seolah tak memedulikannya. Kusapa si Juwita. Kucari celah diantara kawan-kawannya untuk mendudukkan bokongku diantara mereka. Beruntungnya aku, aku duduk disamping sang Dara. Aku begitu senang. Tapi agar aku tidak terlihat berusaha mendekatinya, aku pun berbincang dengan si Juwita tentang topik yang telah aku pikirkan. Sungguh tak kusangka, keberuntunganku untuk bisa duduk disamping sang Dara dan bertutur sapa dengannya tidak sebanding dengan keberuntungan yang kudapatkan selanjutnya.

            Laras Hati, tahukah kau apa keberuntungan itu? Hmm, sesungguhnya apa yang terjadi adalah hal yang sepele, setidaknya bagi kebanyakan orang. Si Juwita memperkenalkan dirimu padaku. Ia melakukan itu karena memang kaulah orang yang bisa menjawab segala tanya yang selama ini terus kuutarakan pada si Juwita. Kita pun berkenalan. Sebuah perkenalan biasa yang tidak memberikan getaran apapun yang terasa berbeda. Ya, aku tahu saat itu aku tidak sedang merasakan cinta pada pandangan pertama. Walaupun aku sadar bahwa kau memang berbeda. Sejujurnya, saat aku melihat wajahmu waktu memang terasa terhenti sejenak. Parasmu sungguh berbeda dari gadis-gadis yang pernah kutemui sebelumnya. Parasmu unik. Kulit wajahmu yang putih dan terlihat mulus, matamu yang tajam, dan hidungmu yang mancung pada akhirnya membuatku terpikat. Tapi memang bukan hanya karena itu aku terpikat. Dan memang tidak segera saat kita bertemu aku langsung terpikat.

            Apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaanku. Beberapa lama kemudian aku semakin mengenalmu ketimbang sang Dara. Aku merasakan kehangatan yang terpancar dari wajah dan senyumanmu. Aku merasakan kesejukan dari tutur katamu. Sang Dara pun terasa dingin bagiku. Sang Dara tidak lagi memiliki sesuatu apapun yang menarik bagiku. Sementara para lelaki lain tetap memburu dirinya, aku tak peduli. Aku hanya memikirkanmu, Laras Hatiku.

            Setelah mendengar pelbagai cerita indah tentang dirimu yang semakin membuatku terbuai dalam angan tentang kita, aku memutuskan untuk masuk ke dalam lingkaranmu. Aku lakukan itu agar aku bisa semakin dekat denganmu. Aku lakukan itu agar aku bisa menunjukkan kehebatanku kepadamu. Dan berhasil! Getaran yang kurasakan semakin kuat. Aku semakin percaya bahwa kau memang untukku. Perasaanku semakin kuat dan aku pun semakin mabuk dalam cinta. Walaupun sebenarnya aku telah bersumpah untuk berhati-hati dalam menggunakan kata “cinta”. Aku senang dengan apa yang kurasakan. Namun alangkah bodohnya aku yang terlalu mabuk untuk menyadari bahwa kenyataannya tidak seindah impiku.

            Laras Hati, ternyata kau tak pernah memiliki rasa yang sama kepadaku seperti yang kurasakan kepadamu. Kau tak membalas sayangku. Bukan, bukan karena kau telah bersama yang lain. Aku hanya…merasa bahwa kau tidak merasakan sesuatu yang “lebih” terhadapku.

            Laras Hati, kau memang luar biasa. Dengan segala keramahan dan kemanjaanmu kau membuatku terus bermimpi akan sesuatu yang seharusnya kusadari takkan pernah terwujud. Namun untunglah, akhirnya aku terbangun. Aku berterima kasih kepadamu karena telah membangunkanku. Kau bangunkan aku dengan membuatku bosan dengan mimpiku sendiri. Segera setelah aku terjaga dan kembali ke dunia nyata, aku langsung berkaca dan mengamati setiap jengkal hidupku dalam cermin kalbuku. Aku pun kembali tersadar akan perjalananku yang pahit. Aku bertekad untuk mengubahnya. Aku tidak mau lagi mengalami kepahitan dalam hidupku. Saat ini aku hanya untuk diriku. Aku tak lagi punya waktu untukmu, Laras Hatiku.

            Laras Hatiku, bila lentera cintaku padam, itu bukan karenamu. Akulah yang memadamkan lentera itu. Aku tak bisa mempertahankan cahayanya karena aku tak bisa terus membiarkan perhatianku tertuju padamu. Biarlah kini kau berada diantara bayang-bayang gelap seperti yang lainnya. Dengan begitu kau takkan lagi menarik perhatianku. Dengan begitu diriku bisa menjadi untuk diriku.

            Teman, kita satu kampus. Satu fakultas. Berbeda program studi. Kita tetap bertemu dan akan terus bertemu. Namun pertemuan-pertemuan itu tidak akan terasa seperti pertemuan-pertemuan kita yang dulu bagiku. Aku telah menutup hatiku untukmu, setidaknya untuk saat ini. Ya, kini kita hanyalah teman. Kau bukan lagi Laras Hatiku.

              

                                                                                    Depok, 27 Februari 2007,

                                                                                    Adhi Putra Tawakal

Mereka Panggil Aku “Beti”

Saturday, April 21st, 2007

Setidaknya selama 8 tahun, sejak kelas 4 SD sampai kelas 2 SMA, saya selalu diolok-olok oleh banyak orang, terutama laki-laki, di sekitar saya. Mereka adalah orang-orang yang dulu saya sebut “teman”, namun tidak lagi karena kini saya telah sadar dengan apa sesungguhnya “teman” itu. Saya tidak berminat berbicara tentang konsepsi “teman” dalam tulisan ini, namun saya akan bicara tentang “saya”, atau lebih tepatnya “saya dalam perspektif mereka yang mengolok-olok saya”.

Nama pemberian mama untuk saya adalah “Adhi Putra Tawakal”, namun diantara mereka yang mengolok-olok saya ada yang memelintir nama tengah saya menjadi “Putri”. Panggilan-panggilan yang akrab di telinga saya antara lain “Bencong”, “Cewek”, dan “Beti” alias “Bencong bertitit”. Hmm, anak-anak tingkat SD-SMA memang belum berakal sempurna ya! Mana ada bencong yang tidak bertitit? Panggilan tersebut begitu mubazir dan begitu problematis.

Saya menemukan problema besar dalam panggilan-panggilan tersebut. Bukan karena panggilan-panggilan tersebut memberikan saya pengalaman traumatis—sampai-sampai saya semapt merasakan sakit hati setiap kali mendengar kata-kata seperti “bencong” atau “banci” sekalipun tidak ditujukan pada saya—melainkan karena sebutan-sebutan tersebut begitu misoginis, alias merendahkan perempuan. Renungkanlah pertanyaan ini: Mengapa orang-orang jauh lebih sering dan lebih mudah mengejek pria yang menunjukkan secara eksplisit kualitas/ penampilan feminin ketimbang perempuan yang secara eksplisit menunjukkan kualitas/ penampilan maskulin?

Mudahkah bagi anda untuk mengejek Reni Djajusman dan Sausan atas ke-tomboi-an mereka? Atau lebih mudah mengejek Oscar Lawalata dan Ivan Gunawan atas femininitas mereka? Saya yakin, dan keyakinan saya sesuai dengan kenyataan, bahwa orang lebih mudah mengejek pria-pria seperti Oscar dan Ivan. Saya pribadi tidak pernah mendengar sepatah ejekan pun terlontar dari mulut pria atau perempuan saat seorang perempuan bergaya tomboi, dengan nada suara yang tegas, dengan rambut cepak, dan sebatang rokok terjepit diantara bibirnya melintas di hadapan mereka. Mereka justru tertegun, terkesima seolah menyaksikan sesuatu yang agung muncul di hadapan mereka, dan mereka pun, dalam hatinya, memberikan respect terhadap sang perempuan tomboi.

Dimana misogininya? Bukankah sang perempuan tidak menjadi korban? Dan bukankah Adhi, Oscar, dan Ivan adalah 3 orang lelaki yang tidak akan pernah merasakan misogini? Benar, namun pikirkanlah lebih seksama. Kualitas-kualitas seperti “kecintaan pada seni dan keindahan”, “tutur kata halus”, atau “sensitivitas perasaan” yang dulu ditemukan pada diri saya adalah kualitas-kualitas yang lazim ditemukan pada perempuan. Mereka adalah kualitas-kualitas feminin yang selalu diasosiasikan dengan kelamin “perempuan”.

Anda tentu tidak bisa memungkiri bahwa dalam pergaulan di masyarakat kita ada standar ganda perlakuan yang diberikan kepada kedua kelompok “menyimpang”, yaitu “pria feminin” dan “perempuan maskulin”. Standar ganda tersebut adalah bukti, yang sering kali luput dari sorotan intelektual manusia, bahwa memang ada misogini. Secara tidak sadar, mereka yang mengejek saya dengan mengasosiasikan saya dengan perempuan telah menganggap bahwa menjadi ke-cewek-cewek-an adalah hal yang hina bagi lelaki. Sementara perempuan yang menunjukkan maskulinitas atau ke-cowok-cowok-an, dengan berambut cepak dan merokok misalnya, dianggap telah meningkatkan derajatnya (entah dalam hal apa) sehingga patut mendapatkan respect dari para lelaki.

Standar ganda ini adalah warisan budaya patriarki. Budaya patriarki telah menetapkan bahwa kualitas-kualitas maskulin yang lazim ditemukan pada lelaki, seperti agresivitas, rasionalitas, kekerasan, dan dominasi, adalah kualitas-kualitas yang agung dan penting yang harus dimiliki manusia, terutama oleh laki-laki. Sementara kualitas-kualitas feminin seperti kedamaian, cinta pada keindahan, sensitivitas emosi, dan kebersamaan adalah kualitas-kualitas non-signifikan yang datang dari manusia tingkat bawah bernama “perempuan”. Lelaki seperti saya yang dulu secara eksplisit menunjukkan kualitas feminin dianggap, oleh orang-orang patriarkis, telah “turun tingkat” dan “menyalahi kodrat” sehingga patut mendapat cemooh.

Kini air mata saya sudah terlalu kering untuk menangisi penderitaan masa lalu. Saya pun mulai sembuh dari trauma saya. Saya merasa terobati oleh ajaran para Feminis Radikal-Libertarian yang mempromosikan manusia-manusia berkualitas Androgini. Manusia androgini, baik dia berpenis maupun bervagina, adalah manusia sempurna yang berhasil mengintegrasikan kualitas-kualitas positif dari maskulinitas dan femininitas. Mungkin saya sudah mencapai itu. Saya rasa kini saya tegas, kuat, dan rasional sekaligus cinta damai dan senang pada keindahan. Saya rasa begitu (menjadi androgini) lebih baik ketimbang harus terpenjara dalam salah satu kutub.

Cih! Kalau saja saya mengenal proposal Feminis Radikal-Libertarian tersebut dari dulu maka saya tidak akan menyia-nyiakan waktu 8 tahun dengan merasa minder dan terbuang. Auf wiedersehen untuk para pengejek. Namun saya berterima kasih karena trauma yang mereka berikan membuat saya lebih bisa memahami derita mereka yang diejek karena “kelainannya”. Ayo, tunggu apa lagi ?! Be an androgynous person NOW! You’ll realize what good it does to you and everybody around you.

                                                                             Depok, 12 April 2007,

                                                                               Adhi Putra Tawakal