Some Answers to the Problems of Mind
Tuesday, January 22nd, 20081. Bagaimana caranya kita mengetahui bahwa suatu makhluk itu memiliki mind, atau memiliki belief dan desire yang menandakan adanya mind? Dennett menjawabnya secara instrumentalis dengan kembali kepada tingkah laku dari makhluk tersebut. Bila kita bisa menjelaskan tingkah laku dari suatu makhluk dengan referensi terhadap belief dan desire yang kiranya dimiliki makhluk tersebut maka kita telah mengadopsi apa yang ia istilahkan sebagai intentional stance. Sebagai contoh, bila saya mengamati seekor kucing yang sedang mengejar seekor kadal, saya bisa memperkirakan bahwa kucing tersebut lapar dan ingin makan. Si kucing melihat seekor kadal yang bergerak dan memiliki belief bahwa yang bergerak itu hidup dan yang hidup itu bisa dimakan, dan kemudian si kucing akan berusaha menangkap si kadal karena ia memiliki desire untuk memakannya dalam rangka menghilangkan rasa laparnya. Dari tingkah laku kucing tersebut saya bisa menyimpulkan bahwa tingkah lakunya memiliki intention, dan adanya intention ini sudah cukup, bagi Dennett, untuk menyimpulkan bahwa kucing tersebut memiliki belief dan desire. Cukup dengan intentional stance ini kita bisa mengatakan apakah sesuatu itu memiliki belief, desire, dan bahkan mind atau tidak. Intentional stance menandakan keberadaan mind karena, bagi Dennett, bila sesuatu itu memiliki belief dan desire maka sesuatu itu memiliki reasoning terhadap tingkah lakunya. Intentional stance bisa dilanjutkan ke design stance saat kita ingin memahami rancangan atau mekanisme yang ada pada sesuatu yang membuatnya bertingkah laku tertentu. Design stance ini bisa kita pahami melalui penjelasan-penjelasan studi psikologi dan biologi. Bila Dennett mengatakan sesuatu yang memiliki intention memiliki belief dan desire pula, maka bisa dikatakan bahwa sesuatu itu mampu merepresentasikan atau memanipulasi representasi dari dunia. Sesuatu itu bisa berupa hewan, tumbuhan, anak kecil, ataupun manusia dewasa. Lalu apakah itu berarti hewan memiliki kapasitas mind yang sama dengan manusia? Tidak, karena, seperti yang dikemukakan Dennett, ada yang dinamakan second-order representation dimana sesuatu bisa mengintrospeksi representasi yang ia miliki atau mengarahkan intentional stance kepada dirinya sendiri melalui aktivitas "berpikir". Second-order representation ini hanya dimiliki oleh manusia karena manusialah satu-satunya yang bisa menggunakan bahasa. Kapasitas untuk merefleksikan representasi inilah yang disebut dengan kesadaran. Dennett juga menerapkan sifat deskriptif dari intentional stance terhadap kesadaran. Praktek dari kesadaran, dalam pandangan Dennett, adalah mengarahkan intentional stance kepada diri sendiri, yaitu mendeskripsikan belief dan desire yang dimiliki dengan menggunakan bahasa. Hasilnya justru bukan observasi ke dalam a la Cartesian melainkan kesadaran adalah aktivitas menceritakan tentang diri kita. Cukup masuk akal rasanya bila ini yang dimaksud dengan kesadaran yang hanya dimiliki manusia karena kenyataannya memang hanya manusia yang mampu menceritakan tentang dirinya sendiri. Hewan X atau tumbuhan Y tidak bisa menceritakan siapa diri mereka karena mereka tidak berbahasa dan tidak bisa mempraktekkan second-order representation. Inilah kiranya awal mula pemikiran Dennett sebelum ia sampai pada pendapat bahwa dibutuhkan metode baru yang ia namakan "heterofenomenologi" untuk memahami kesadaran. Heterofenomenologi juga sama dengan fenomenologi yang telah ada sebelumnya sebagai sebuah analisis dan deskripsi dari kesadaran. Saya rasa Dennett menambahkan awalan "hetero" karena fenomenologinya, dengan bantuan intentional stance, bisa diarahkan bukan hanya kepada kesadaran subyek melainkan juga kepada kesadaran-kesadaran atau mind lain. Hetero pula karena fenomenologinya menganalisis dan mendeskripsikan beliefs dan desires yang ada secara heterogen dalam suatu mind.
2. Kesadaran, atau biasa disebut consciousness atau awareness dalam bahasa Inggris, sering dipahami sebagai pengalaman terhadap pengalaman. Pertama kita mengalami suatu goings-on di dunia ini, dan kita kemudian seperti melakukan "introspeksi" terhadap pengalaman kita tersebut. Saat sesuatu bisa melakukan introspeksi tersebutlah sesuatu itu dikatakan berkesadaran. Sebagai contoh, saat saya menekan ujung sebuah meja dengan jari saya, kesadaran saya bekerja saat saya menyadari adanya ujung meja yang saya tekan atau saat saya menyadari sensasi tekanan yang terasa pada jari saya tersebut. Obyek dari kesadaran tidak melulu eksternal melainkan bisa pula internal seperti, misalnya, saat saya menyadari bahwa saya sedang memikirkan sesuatu. Kesadaran dikatakan sebagai konsep yang holistik karena kesadaran memang mencakup beberapa segi. Kesadaran itu bersifat subyektif karena sang subyek pemilik kesadaran hanya bisa merasakan dan memahami secara akurat pengalamannya sendiri. Sebagai contoh, subyek A bisa saja melihat subyek B menangis dan memahami bahwa B sedang bersedih, namun A tidak akan tahu seperti apa rasanya kesedihan yang dialami B karena A tidak merasakan secara aktual kesedihan yang dialami B. Subyektivitas ini menunjukkan bahwa kesadaran terhadap pengalaman memiliki kualitas yang berbeda-beda antara kesadaran yang satu dengan yang lain. A dan B bisa saja meminum teh dari gelas yang sama namun berbeda mengenai kemanisannya, dimana A menganggap bahwa teh itu belum cukup manis namun B merasa bahwa teh itu sudah manis. Kualitas "seperti-apa-rasanya" dari pengalaman yang disadari ini disebut qualia. Kesadaran itu selalu tentang dan terhadap sesuatu, dan itu berarti bahwa kesadaran juga memiliki segi intensional. Sekalipun kesadaran itu tidak diarahkan pada benda eksternal namun diarahkan pada pikiran si subyek sendiri, seperti yang dilakukan Rene Descartes pra-cogito ergo sum, tetap saja itu menunjukkan bahwa kesadaran harus selalu diarahkan pada sesuatu atau pengalaman akan sesuatu. Kesadaran yang kita miliki juga ada yang pusat dan ada yang periferal. Dalam contoh menekan meja tadi, bila saya mengarahkan kesadaran saya pada sensasi tekanan yang saya rasakan pada jari saya maka kesadaran akan tekanan itulah yang bersifat pusat, sementara kesadaran akan ujung meja yang saya tekan bersifat periferal, begitu pula sebaliknya. Kemana saya mengarahkan kesadaran saya atau kesadaran pusat saya adalah suatu kesadaran yang aktif. Kesadaran seseorang dipengaruhi pula oleh segi mood dari pemilik kesadaran tersebut. Mood ini membuat suatu pengalaman yang sama, yang netral dari perasaan, bisa disadari secara berbeda bila dalam mood yang berbeda. Sebuah lagu yang sendu bisa membuat saya menangis bila saya memang sedang bersedih, namun tidak akan berpengaruh apa-apa saat saya sedang ceria. Mood ini membuat sebuah pengalaman yang disadari bisa terasa pleasureable atau unpleasureable. Adanya intensionalitas dan mood serta segi-segi lainnya ini membuat sebuah kesadaran selalu tersituasikan, dalam arti kesadaran terhadap sesuatu itu bukanlah sesuatu yang otonom dan fix. Itulah beberapa segi kesadaran yang menunjukkan bahwa kesadaran memang mencakup beberapa segi secara holistik.
3. Teori representasional dari mind adalah teori yang menganggap bahwa mind adalah sebuah mesin semantik dimana mind mampu memanipulasikan simbol-simbol dalam bahasa dan merefleksikan relasi dari simbol-simbol tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip formal dan sintaksis terlepas dari apa makna simbol tersebut. Aturan formal dan sintaksis yang dimaksud adalah aturan logika dari tata bahasa. Mind adalah sebuah proses mental yang berisi operasi-operasi terhadap simbol-simbol. Teori representasional menganggap bahwa mind adalah sesuatu yang bersifat fungsional dengan kemampuannya memanipulasi simbol. Kata "representasi" menunjukkan bahwa simbol-simbol yang ada di mind kita adalah representasi dari keadaan di dunia yang data-datanya kita dapatkan secara sensorik. Keadaan di dunia itu direpresentasikan secara simbolis oleh bahasa. Tentu saja bahasa yang dapat memberikan representasi itu adalah bahasa yang kita mengerti. Bahasa yang tidak kita mengerti tidak akan memberikan representasi apapun kepada kita. Masukan sensoris itu kemudian menjadi simbol dalam apa yang disebut sebagai "belief box". Sebagai contoh, saat saya melihat sebuah apel merah, apel merah tersebut akan menjadi simbol yang mengekspresikan sebuah proposisi dalam belief box saya bahwa "apel itu merah". Kemudian bila saya ingin memakan apel itu, itu berarti bahwa saya memiliki simbol dalam "desire box" yang merepresentasikan bahwa saya harus berjalan ke arah apel tersebut, mengangkatnya, dan kemudian menggigitnya. Singkatnya, masukan sensoris akan menjadi simbol dalam belief box saya yang bila bertemu dengan desire box, atau saya memiliki simbol dalam desire box yang cocok dengan simbol di belief box, maka keduanya akan menghasilkan tingkah laku. Inilah cara kerja dari mind dalam pandangan teori representasional. Setiap mind berisi akan belief box dan desire box, sekalipun simbol-simbol yang muncul dalam boxes tersebut bisa berbeda antara mind yang satu dengan yang lain. Perbedaan dari simbol ini dan bagaimana simbol tersebut dimaknai adalah hal yang wajar bagi teori representasional karena makna sebuah simbol tidaklah intrinsik dalam simbol tersebut sebagai sesuatu yang terberi, melainkan bergantung pada bagaimana simbol tersebut dipergunakan oleh sang agen atau sistem yang mempergunakannya. Sebagai contoh, kata "apple" tidak intrinsik bermakna "buah apel" melainkan bisa bermakna "merek elektronik". Makna-makna dari simbol tersebut dan juga language of thought kita bisa berubah secara kausal seiring dengan perubahan goings-on di sekitar kita. Ini berbeda dengan perubahan makna dalam mesin semantik seperti komputer yang diprogram oleh manusia. Kelebihan dari teori representasional dalam memahami mind menurut saya terletak pada ilustrasinya tentang cara kerja mind yang melibatkan belief box dan desire box. Belief box menunjukkan kepada kita bahwa data-data sensorik tidak datang kepada kita secara obyektif melainkan disimbolisasikan secara kontekstual oleh mind kita. Sementara desire box menunjukkan bahwa tingkah laku kita selalu berlandaskan pada simbol-simbol yang ada di dalam mind kita pula. Kekurangan dari teori ini menurut saya adalah anggapannya bahwa mind mampu memanipulasikan simbol-simbol secara logis melalui aturan sintaksis tanpa mengetahui makna dari simbol tersebut. Teori ini terlalu menyamakan kerja mind manusia dengan kerja program komputer. Karena diprogram terlebih dahulu oleh manusia maka komputer bisa memanipulasi bahasa dan data-data yang diberikan secara benar hanya melalui aturan sintaksisnya, sementara mind manusia tidaklah diprogram terlebih dahulu seperti itu. Tidak mungkin seorang Indonesia yang sama sekali tidak mengerti bahasa Mandarin bisa merangkai kata-kata yang diberikan dalam bahasa Mandarin menjadi sebuah kalimat yang benar dan logis tanpa menggunakan manual. Komputer bisa dibekali dengan manual tersebut saat diciptakan, sementara mind manusia tidak dibekali dengan manual itu saat manusia dilahirkan.
4. Sebelum saya menjelaskan apa yang menurut saya "is" dari mind saya akan menjelaskan apa yang "is not" dari mind. Menurut saya mind tidak melibatkan persona seseorang karena persona atau kepribadian adalah sebuah pilihan dan bukan sesuatu yang terberi, sementara mind adalah sebuah fakultas atau kemampuan dari makhluk hidup yang terberi namun tetap bisa disituasikan dan dimodifikasi kapasitasnya. Tidak masalah dengan kepercayaan, ideologi, atau world-view apa yang saya anut karena itu tidaklah mengonstitusikan mind saya. Mereka bisa dikatakan sebagai isi yang diregulasikan oleh mind saya. Untuk mind ini saya juga sulit untuk berbicara secara sekuler dengan mereduksi mind kepada sekedar sistem syaraf, walaupun saya setuju bahwa mind memang terkait dengan sistem syaraf. Saya sadar ini tidak terdengar filosofis namun fenomena mistis seperti hantu membuat saya kesulitan untuk mengingkari teori tentang keberadaan jiwa yang menurut saya terkait dengan mind. Dengan begitu saya juga tidak setuju bila ada pandangan bahwa mesin juga memiliki mind hanya karena mesin mampu melakukan operasi yang sama dengan manusia, seperti misalnya hitung-menghitung. Mesin bisa berhitung bukan karena mesin memiliki mind secara natural namun karena mesin diprogram oleh manusia untuk bisa berhitung. Konsepsi mind yang saya pegang adalah bahwa mind adalah fakultas yang merasakan, mempersepsikan, berpikir, berkehendak, dan melakukan penalaran. Apa yang saya rasakan, pikirkan, kehendaki, dan bagaimana saya mempersepsi dan menalari memang sifatnya tersituasikan oleh, misalnya, ideologi saya. Namun ideologi itu sendiri, dan hal apapun yang bisa mensituasikan mind saya, bukanlah konstituen dari mind itu sendiri. Mind melayani sebuah fungsi. Sehubungan dengan fungsi ini saya menyetujui Daniel Dennett yang menciptakan hirarki mind, karena saya juga melihat ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh hewan dan tumbuhan, seperti berpikir dan berkehendak. Artinya, kualitas dan kapasitas mind manusia tidak sama dengan makhluk lainnya. Kemampuan-kemampuan yang ada dalam mind ini ada secara natural. Kemampuan ini tidak bisa diberikan kemudian oleh manusia seperti saat manusia memprogram mesin. Manusia hanya bisa membangkitkan dan mengasah potensi-potensi yang ada dari mind.