Let’s be straightforward!

Sewaktu saya pergi ke rumah kakak dan kakak ipar saya di Ames, Iowa, USA, saya sedikit mengalami culture shock. Saya dikejutkan bukan oleh kultur Amerika secara general, namun oleh sikap kakak ipar saya yang orang kulit putih dan sikap kakak saya yang tertular budaya Amerika. In a nutshell, I was surprised by how straightforward they were. Sebagai contoh, saat saya sibuk “menyendiri” di kamar saya di ruang bawah tanah, instead of socializing with them and their friends, they asked me: “Why are you being antisocial?” I was like “wow, why am I being confronted like this at dinner?!”

Similar thing happened at my part-time work at Bali Satay House, an Indonesian restaurant in the city. To put it simply, people there didn’t hesitate to say what they wanted to say. Mungkin, secara cepat-cepat, kita bisa menganggap bahwa mereka acuh terhadap perasaan lawan bicara mereka. I was hurt at first, but I guess it takes time to understand why they acted like that.

Saya mencoba memahami straightforwardness semacam itu sebagai ekspresi dari kebiasaan mereka untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik. Kontras dengan sebagian orang Indonesia yang doyan membiarkan problem berlarut-larut dengan berdiam diri, memendam perasaan, dan, eventually, menggerutu di belakang.

Kemudian saya mendamba straightforwardness semacam itu dalam relasi pertemanan saya. Saya berkali-kali bilang pada teman-teman saya: “kalau kalian punya masalah dengan saya, bicara saja langsung pada saya”. I looked forward to that, and I tried to model myself like that. Mengapa? Karena dengan kita bicara tegas kepada teman-teman kita tentang apa yang kita rasakan, kita bisa menyelesaikan permasalahan yang ada, menyingkirkan segala gundah yang mengganjal dengan segera.

Bila kita memang mencintai hubungan yang kita miliki dengan teman-teman kita, maka tidakkah straightforwardness itu sesuatu yang desireable? Tidakkah memendam rasa, menggerutu di belakang justru membunuh relasi kita secara perlahan?

Unfortunately, banyak orang belum terbiasa dengan relasi yang blak-blakan seperti itu. Kesulitan untuk menerima straightforwardness pada dasarnya adalah kesulitan untuk menerima kejujuran. Sulit untuk menerima kejujuran saya bahwa saya punya masalah dengan anda, bahwa ada kualitas pada diri anda yang tidak membuat hubungan kita mutual. Beruntung, saya tidak punya masalah untuk menerima kejujuran orang lain.

Anda pikir saya sok pintar? Tell it to my face! Anda tidak suka dengan cara bicara saya? Tell it to my face! I don’t mind and I’m not gonna feel bad.

Tak bisa saya pungkiri bahwa saya pun acap kali memendam rasa dan menggerutu di belakang orang yang terhadapnya saya seharusnya bicara. Ada setidaknya 2 alasan mengapa saya belum menanggalkan kebiasaan ini sepenuhnya: 1) Saya takut straightforwardness justru memperburuk keadaan karena orang tersebut tidak bisa menerima straightforwardness saya. 2) Saya tidak berminat memperbaiki keadaan dengan orang tersebut, tidak berminat menyelenggarakan klarifikasi atas problem yang saya atau kita alami. In other words, hubungan dengan orang tersebut tidak lagi valuable untuk saya.

It’s sad actually. Saya percaya bahwa relasi kita akan lebih mudah seandainya kita mudah berbicara apa adanya di depan, bukan di belakang. Jujur, dan coba anda refleksikan sendiri, tidakkah problem yang kita pendam membunuh relasi kita dan momen-momen yang kita cherish perlahan-lahan?

2 Responses to “Let’s be straightforward!”

  1. ade Says:

    masa sih masih asing dgn yg begitu? berarti dosen gw doang dong… salah satu angkatan gue skripsinya dibilang scheisse (s**t).pendidikan yg bagus, bkn?

  2. Diny Says:

    the way we indonesians were brought up is so against ’straightforward’. from personal experience, i was told that it’s okay to tell a little lie so we don’t hurt the other people’s feeling. wrong. just tell it as it. don’t be ‘mencla mencle’ gitu lho.

Leave a Reply